Di era yang serba digital, memaksa kita untuk terbiasa untuk berkomunikasi tidak secara langsung. Khususnya pada saat ini dunia sedang menghadapi pandemi Covid-19, dimana kita terkendala untuk penyampaian informasi secara langsung, baik dalam rapat dan lainnya. pada saat ini kita lebih banyak memanfaatkan teknologi komunikasi untuk tetap bisa saling berkomunikasi dalam menyampaikan sebuah infromasi. Dalam media komunikasi di era digital juga perlu pencegahan terhadap informasi yang beredar, sehingga informasi yang disampaikan akurat dan dapat dibuktikan kebenarannya.
Tujuan pelatihan operator Gantry Luffing Crane (GLC) Conventional yang bersertifikat STC International dan PT Pendidikan Maritim dan Logistik Indonesia ini adalah untuk mengembangkan seorang kandidat yang mahir dalam menggunakan Gantry Luffing Crane (GLC), yang mampu bekerja dengan aman dan efisien setiap saat. Dengan cara ini, efisiensi operasi di pelabuhan akan meningkat dan operasi yang lebih aman terjadi. Pelatihan dimulai dengan latar belakang teori singkat, sebelum memulai pelatihan tentang GLC melalui sejumlah latihan.
Pelatihan dengan pokok-pokok materi yang memberikan wawasan dan pengetahuan dasar kepelabuhanan (Port Basic Knowledge) yang diharapkan dapat memberikan dasar pemikiran dan pembentukan “mindset” insan pelabuhan. Materi inti pelatihan ini bersumber dari konsep dasar peran dan fungsi pelabuhan (Port Basic Concept) yaitu:
1. Pelabuhan sebagai mata rantai transportasi (link),
2. Pintu gerbang perekonomian negara /daerah (gateway),
3. Tempat perpindahan muatan antar moda (interface), dan
4. Sebagai entitas industri (industri entity) daerah belakangnya (hinterland).
Kegiatan pokok pelabuhan, stakeholder terkait serta aspek-aspek yang mempengaruhi pelaksanaan fungsi pelabuhan.
Kesadaran tentang peningkatan kualitas pelayanan terhadap Pelanggan, masih perlu ditingkatkan, mengingat Paradigma Melayani belum benar-benar memperbaiki sikap dan kenyamanan yang dilayani dari Front-liners sebagai ujung tombak yang berhubungan langsung dengan Pelanggan.
Di samping sikap dari aspek Manusia, juga masih ada kita temui Sistem Pelayanan yang dirancang tidak berorientasi untuk Pelayanan Pelanggan (Pelanggan Didorong), tetapi berorientasi pada Sistem Kontrol Perusahaan (Perusahaan Didorong), sehingga tidak memberikan akses ke Pelanggan, tetapi malah memberikan pelayanan kepada Pelanggan.
Kelangsungan organisasi di tengah turbulensi bisnis sebagai akibat gejolak global ekonomi sekarang ini, mengakibatkan manajemen harus bekerja ekstra dalam mengelola organisasi. Untuk mengatasi kondisi ini, manajemen dapat memanfaatkan peran audit internal untuk membantu di dalam memberikan solusi atau dengan segera dapat memberikan informasi yang akurat sehingga dapat meraih peluang yang ada. Namun, untuk mendapat auditor yang handal dan berintegritas tidaklah mudah karena harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang dapat diterima dan diakui secara global dan jelas acuannya.