Management of General Cargo Operation atau lebih dikenal dengan IPP-1, adalah program pelatihan berasal dari A Project The United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) yang dibiayai oleh The Swedish International Development Authority (SIDA) diproduksi dan direalease tahun 1982 oleh Drake Educational Associates Limited Cardiff, United Kingdom. Meskipun program pelatihan ini sudah cukup tua (sejak 1982), namun dari segi teknis dan prinsip-prinsip operasinya masih tetap relevan dengan kondisi, sifat dan karakteristik dalam operasi penanganan muatan general cargo atau breakbulk cargo saat ini. Kontainerisasi dalam sistem angkutan laut yang berkembang pesat bukan berarti menghilangkan sama sekali jenis muatan general cargo.
Seperti di Pelabuhan Tanjung Priok, yang merupakan pelabuhan terbesar di Indonesia. Pada tahun 2017 misalnya, arus barang dalam bentuk breakbulk cargo masih tercatat sebanyak 5.34 juta ton, tahun 2018 diperkirakan menjadi 6,02 juta ton (sumber: Realisasi Tahun 2017 dan RKAP Tahun 2018).
Dengan bentuk/ kemasan yang bervariasi, sifat dan karaktersitik masing-masing barang yang berbeda, demikian juga ukuran dan beratnya, mengharuskan breakbulk cargo ditangani secara individual. Hal ini menjadikan cara penanganan lebih rumit dibandingkan penanganan containerize cargo atau homogen cargo.
Dalam banyak kasus di terminal-terminal yang menangani muatan general cargo atau breakbulk cargo, menunjukan kinerja yang berada di bawah potensinya. Banyak di antara buruknya kinerja penanganan itu bukan dikarenakan kurangnya sumber daya yang ada, melainkan persoalannya banyak terletak pada aspek manajemen.
Program pelatihan IPP-1 dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan manajemen yang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja operasi general cargo. Serangkaian kegiatan pelatihan sebagian besar menuntut peran aktif peserta, baik secara perorangan maupun kelompok. Pelatihan juga dirancang dengan menggunakan komponen-komponen yang salah satunya program audio visual dan buku kerja peserta.
Pelatihan ini memberikan peserta pengetahuan tentang praktik logistic yang baik, terutama operasi dan manajemen gudang (custom clearance, distribusi, dll) yang memungkinkan peserta untuk mengidentifikasi peluang dan merumuskan tindakan-tidakan peningkatan kinerja. Program ini dirancang untuk modernisasi standar operasi gudang dan bagaimana cara mengoperasikan WMS sebagai system operasi gudang lanjutan.
Analisis Beban Kerja adalah proses untuk menetapkan jumlah jam kerja orang yang digunakan atau dibutuhkan untuk merampungkan suatu pekerjaan dalam waktu tertentu, atau dengan kata lain analisis beban kerja bertujuan untuk menentukan berapa jumlah SDM dan berapa jumlah tanggung jawab atau beban kerja yang tepat dilimpahkan kepada seorang karyawan.
Suatu proyek diupayakan agar pembangunan dapat dikelola dengan baik dan sesuai dari perencanaan serta tujuan. Pembangunan yang baik selain sesuai dengan tujuan, tetapi juga memperhatikan mutu bangunan, biaya yang digunakan, dan waktu pelaksanaan. Adanya pengawasan mutu sangat penting dalam construction management agar tidak menyimpang dan dapat bekerjasama baik dengan seluruh pelaku dalam proyek. Risiko-risiko yang dapat merugikan untuk berbagai pihak yang terlibat harus tetap dijaga dan diberi alternatif terbaik dalam dimulainya proses proyek hingga selesai.
Departemen pelaporan merupakan departemen yang baru, setiap Sumber Daya Manusia yang ada memiliki knowledge yang berbeda terkait dengan sistem pelaporan. Oleh sebab itu, perlu adanya pelatihan untuk menyeragamkan pemahaman dan pelaksaaan penyusunan pelaporan operasional.