Menindaklanjuti hasil studi penyusunan Program Penanganan Sosial Kemasyarakatan proyek pembangunan Terminal Kijing yang telah menghasilkan Road Map Program Corporate Social Responsibility (CSR) pada rentang waktu selama pelaksanaan proyek dan sampai dengan rencana 3 – 5 tahun ke depan serta kegiatan terkait yang menopang. Dan pada tahun pertama, diusulkan pelaksanaan program quick win yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan proyek pembangunan terminal Kijing.
Implementasi program penanganan sosial kemasyarakatan proyek pembangunan terminal kijing adalah dalam rangka menginisiasi pemberdayaan masyarakat sekitar terminal kijing kedepan yang berkelanjutan dan terarah. Salah satu program yang akan dilakukan adalah Pelatihan Pengelasan di 5 desa terdampak.
Muatan kapal laut breakbulk cargo atau containerize cargo terdiri dari berbagai macam komoditas, termasuk diantaranya berupa bahan/ barang yang menurut sifat kimiawi atau alaminya yang apabila ada pengaruh perubahan suhu (temperature), tekanan (pressure) atau kontaminasi dengan bahan/barang lain yang berlawanan sifatnya mengandung potensi bereaksi dengan risiko bahaya berupa ledakan (explosive), kebakaran (fire), meracuni (poison), kerusakan lingkungan (environment), atau kombinasi diantara bahaya-bahaya tersebut. Bahan/barang dengan sifat dan karakteristik demikian oleh IMO dikatagorikan sebagai bahan/ barang berbahaya (Dangerous Goods).
Bahan/ Barang Berbahaya (Dangerous Goods), adalah setiap larutan, zat kimia, campuran atau barang-barang dagangan yang dapat menyebabkan cedera/ kerusakan pada PEAR (People, Environment, Assets and Reputation).
Penanganan barang/ bahan berbahaya di kapal, di pelabuhan bahkan di industri:
1. Harus dilakukan dengan petunjuk dan peraturan yang berlaku, menggunakan sarana yang paling aman dan dengan kewaspadaan yang tinggi ;
2. Harus diberikan informasi karakteristik dan sifat bahayanya, kewaspadaan dan peraturan keselamatan, prosedur darurat (emergency schedule) yang harus diikuti, tindakan yang harus dilakukan bila terjadi kecelakaan guna mencegah kerusakan lebih lanjut terhadap PEAR, dan pertolongan pertama pada kecelakaan (Medical First Aid Guide) terkait bahan/barang berbahaya.
Petunjuk penanganan, peraturan dan informasi sebagaimana dimaksud termuat dalam:
1. Rekomendasi dari International Maritime Organization (IMO) dikenal dengan nama The International Maritime Dangerous Goods Code (IMDG-CODE) yang diamandemen setiap dua tahun ; dan
2. Surat Keputusan Dirjenla No. Um.48/4/2-01 Tgl. 27 Februari 2001, tentang “Pedoman Pelaksanaan Penanganan Bahan/ Barang Berbahaya di Pelabuhan di Seluruh Indonesia”
Kemampuan dalam melakukan pengelolaan arsip merupakan hal yang penting untuk dimiliki oleh karyawan, khususnya yang bertugas di Divisi Tata Usaha. Dengan diadakannya Bimbingan Teknik Pengelolaan Arsip Dinamis, diharapkan peserta dapat memiliki awareness terhadap kearsipan dan mendukung program flow of goods and document yang sedang gencar dilakukan oleh PT Pelabuhan Indonesia (Persero)
Pada aktivitas di terminal, perencana kapal harus mampu mengetahui jenis-jenis kapal dan barang yang ditangani. Mereka harus memperkirakan jadwal kapal dan beban kerja dalam rangka meningkatkan utilisasi SDM dan fasilitas. Selain dapat memenuhi keinginan pengguna jasa, mereka juga mengedepankan keselamatan, efektivitas, serta produktivitas yang baik bagi perusahaan.
Untuk meningkatkan kualitas pelyanan, perusahaan perlu membuat suatu perencanaan, memahami kebutuhan dan mendengarkan keluhan-keluhan dari pelanggan agar dapat membuat suatu strategi perencanaan yang baik sehingga kebutuhan pelanggan dapat tercapai